Layang sworo mu
“Pertemuan selalu
menghasilkan sebuah kenangan. Dan kenangan itu akan hanya terjadi satu kali.
Kalaupun terjadi lagi. Pasti semuanya akan berbeda” selalu aku ingat kalimat itu. Dan
selaluku hafal. Kenangan yang telah kami rajut. Kenangan yang telah mengikat
kami berdua akan selaluku simpan dalam – dalam. Tak akan pernah kulupa. Aku
bersyukur kepada-Nya. Karena telah menganugerahi rasa ini. Yang akan kujaga
sampai mati. Aku begitu menyayanginya. Sangat menyayanginya. Sehingga hal
terkecil apapun. Hal sepele apapu jika menyangkut “orang lain” aku mudah sekali
cemburu. Mudah sekali marah dan mudah sekali hilang kepercayaan. Mungkin karena
ada jarak yang memisahkan kami sehingga sukar bagi kami (berlaku hanya untukku)
mempercayai. Sudah lama aku mengenalnya. Dia semakin dewasa. Semakin mantap
sikapnya. Sifatnya. Dan segala perilakunya. Dia sudah dewasa rupanya !
“halo? Jangan marah
terus ta” katanya via telpon.
“tauk” jawabku singkat. Sudah
menjadi kebiasaanku ngambek dan marah – marah tanpa sebab ketika mulai
terserang virus yang bernama cemburu. Dan sudah menjadi kebiasaannya menelponku
ketika aku sudah tak membalas pesan singkatnya lantaran marah karena cemburu.
Dia sudah paham dengan sifatku yang satu ini. Dia sabar sekali menghadapiku.
Tak seperti masa – masa SMA dulu. Dia masih kekanak – kanakan. Selalu cemburu.
Selalu marah dan melarangku ini itu. Padahal hanya dekat dengan teman – teman
cowokku. Dan sekarang semuanya serba terbalik. Aku yang kekanak – kanakan. Aku
sadar. Aku paham dengan sifatku yang entah dari mana asal muasalnya. Yang entah
siapa yang menyuruhnya. Aku juga tak tahu.
“jangan negative terus” katanya
mendinginkan hatiku yang kian panas
“biarin” balasku cuek
“kamu kayak anak kecil deh”
katanya ngejek. Sambil tertawa puas
“salahmu. Kalo anak kecil minta
ditemeni terus. Temeni aku terus” kataku manja
“iya ini dah.. oh ya, gimana?
Katanya mau makan bubur pake sumpit” katanya lagi. Aku mulai tertawa dan
melupakan amarahku. Dia memang paling bisa dalam hal yang seperti ini.
“ogak. Gila apa?” kataku sambil
tertawa malu. Padahal aslinya grogi ga ketulungan.
“loh ayoo coba dulu” katanya
memaksa
“ogak. Kesini aku kangen” kataku
merengek
“malang terus. Gentian ta”
katanya merajuk
“oke, nanti aku kesana tgl 16
juli ya?” kataku merayu
“ada pa sih tgl 16 juli?” katanya
tersipu
“eh kamu tau film Radio Galau FM
ga?” kataku mengalihkan
“engga. Dari judulnya aja udah ga
bagus” katanya sok
“bagus. Ada Bara Mahesa. Cakep
banget” kataku ganjen
“oh” katanya cuek. Hah? Apa?
Hanya oh? Aku mulai paham dengan sikapnya yang ini.
“engga kok masih cakep kamu”
duar.. aku tertawa lepas. tapi dia tetap diam tak bersuara di seberang sana. Artis
pun bisa jadi objek kecemburuan. Ada – ada saja.
Kami berbincang berjam – jam.
Dari yang tadinya duduk – duduk. Sampai dengan posisi tiduran, bahkan sampai tengkurep.
Dari yang tadinya baterai handphone full. Sekarang hanya tinggal satu
kehidupan. Dari yang tadinya ngambek – ngambekan, marah – marahan. Sekarang
jadi romantis – romantisan. Hingga akhirnya adzan pun berkumandang. Lalu dia
pamit sholat sebentar. Tak lama kemudian handphoneku kembali berdering. Kulihat
layar handphone. Dia. Kami kembali tenggelam dalam percakapan lewat layang
sworo.
Setiap
hari kerjanya telponan. Smsan. Dari pagi. Siang. Sore. Malem. Telpon terus.
Entah apa yang menyelinap dalam hati. Orang – orang biasa menyebutnya
“bahagia”. Ya ! aku bahagia. Bahagia sekali rasanya. Tak pernah dia seperti ini
sebelumnya. Seingatku, waktu SMA dia ga suka ditelpon. Apalagi menelpon. Jadi
hanya sebatas smsan saja. Kali ini beda. Dia sering nelpon. Tumben – tumbenan.
Tapi tak apa. aku senang. Senang sekali.
Hingga
akhirnya, tiba saatnya aku harus pulang kampung. Karena seminggu setelahnya aku
harus mengikuti Ujian Tengah Semester. Malam harinya kami smsan sampai larut
malam. Kebiasaan ini sudah beberapa bulan yang lalu terjadi. Tapi aku hanya
mampu bertahan sampai jam sebelas malam. Mataku tak pernah bisa diajak
kompromi. Cuma kadang – kadang aja aku temani dia smapai larut. Bisa dihitung
jari sih.
“aku mau sholat, kamu gamau
tidur?” katanya via sms
“kamu ngusir? Yaudah. Bilang ta
kalo gamau smsan” kataku emosi. Entah kalimatnya yang mana, kata – katanya yang
mana, yang membuatku darh tinggi. Aku juga tak tahu. Aneh aku ini. Batinku
“mesti
kamu gitu terus. Mesti kamu ga pernah ngerti maksudku. Ga pernah percaya aku.
Mesti dikit – dikit di vonis gamau smsan. Padahal aku Cuma bilang gitu” katanya mulai marah. Entah dia
sedang marah atau kecewa aku tak tahu. Mungkin semuanya. Aku mulai ga enak
hati. Nyesel bersikap begitu. Belum pernah dia seperti ini.
“oke maaf. Kamu sih” kataku minta
maaf
“aku mau sholat, takutnya kamu
nunggu lama terus aku ditinggal” katanya. Sedikit nyesek kalimatnya. Memang
tiap malam aku yang selalu hilang duluan. Sudah kubilang mataku tak bisa diajak
kompromi. Dan akhirnya benar. Aku tak sanggup menunggunya sholat akhirnya aku
terlelap. Dasar mata kucing!
Aku
pulang. Dalam perjalanan pulang. Dia menemaniku smsan. Terus smsan. Biasalah..
setiap kali smsan harus tengkar.
Memang. Seakan –akan sudah menjadi kewajiban setiap hari. Dan dalangnya tidak
dapat dipungkiri lagi dan bisa ditebak. Ya aku sendiri. Tak mungkin dia
memulai. Pasti aku. Dasar anak kecil !
Setibanya
dirumah, dia kembali menelponku. Kami berbincang sampai dini hari. Tak terasa.
“aku mau ke malang tgl 28 april
ya?” katanya via telpon
“loh? Tanggal berapa? Aku gabisa
tgl segitu” kataku
“endak. Pokoknya harus bisa !”
katanya tegas. Ini nih. Kebiasaannya sedari dulu. Kalo udah kemauannya harus
dituruti. Tidak boleh tidak.
“tunggu tanggal 28 april. Aku mau
bilang sesuatu” katanya semangat
“iya, mau ngomong apa sih?”
kataku kepo
“tunggu aja” katanya lagi “oh ya
tanggal 16 april adekku ultah lo” lanjutnya
“oh ya? Jodoh dong sama aku?
Adekmu 16 aku 17nya?” kataku tertawa
“iya dah sana sama adekku kamu
dah. Gausah sama aku !” katanya marah. Geli aku dengernya. Aku tertawa puas !
akhirnya menang
Lama kami berbincang sampai tak
sadar sudah dini hari. Keasyikan ngobrol sih. Dunia ini serasa milik berdua. Ga
urus yang lain pokoknya aku sama dia aja. Hari – hariku indah karena ada dia.
Lebay dikit ! keesokan harinya dia kirim pesan singkat.
“hari
kedua uan, tgl 17”
katanya via sms. Kebiasaannya suka ga jelas kirim pesan singkat
“maksudnya?” kataku bertanya
“aku
mau mekdi”
balasnya cepat
“kenapa mekdi?” kataku lagi
“aku
mau traktiran mekdi”
balasnya lagi
“ada apa tgl 17?” kataku bertanya
lagi
“pokoknya
mekdi” balasnya
Yah kebiasaanya. Apapun yang dia
mau. Harus terkabulkan. Harus terpenuhi. Kalau tidak? Dia bakalan murka. Hi
takut. Tapi aku sayang dia.
Komentar
Posting Komentar