17 April, dan Kita :)



“17 April dan Kita”

Saat hati tak bisa dipungkiri. Saat rasa tak bisa terbohongi. Saat rindu tak bisa terbendung. Dan saat perasaan tak berhenti menyaingi sang logika. Pada saat itulah aku akan terus bersikukuh untuk selalu menyayangimu. Aku tak akan pernah menyerah untuk tidak menunggumu. Meski engkau (mungkin) telah memilih orang lain. meski jauh asaku untuk memilikimu seutuhnya. Tapi aku akan terus menunggu dan menunggumu. Aku menunggu tanggal 28 April 2013. Aku menunggu kau bilang sesuatu. Aku menunggu hari itu.”

Senin, 15 April 2013
            Hari itu.. entah apa yang membuatku begitu emosi. Apa yang membuatku begitu benci dengan keadaan itu. Keadaan yang harus memaksaku untuk jauh dari raganya. Dia berada di kota seberang sana. Dan aku berada di kota seberang sini. Kami terpisah oleh jarak berkilo – kilo. Tak tau harus disatukan dengan cara apa kedua kota ini. Yang jelas, secara logika tak bisa dipersatukan karena jauhnya jarak diantara kami.
“kesinio tanggal 16 ajaa..” kataku via sms
“engga. Kamu kuliah itu” balasnya
“ya gapapa, aku kuliahnya siang kok. Ya?” kataku lagi
“engga. Tunggu tanggal 28 aja deh. Aku pasti kesana” balasnya lagi
“yaudah kalo gitu aku yang kesana” kataku ngotot
“jangan, cewek – cewek gaboleh sendirian” balasnya
“yaudah kalo gitu kamu kesini jemput aku lalu kita bareng kesana, ya?” kataku terus ngotot
“jangan kok, tunggu tgl 28 deh. Yang sabar” balasnya lagi tak bisa di cegah
Rencananya sih tanggal 16 aku mau langsung ke Surabaya tanpa harus ijin dulu. Ya setidaknya bikin surprise lah. Tapi ada halangan yang membuatku gabisa kesana. Akhirnya akupun mengurungkan niat untuk berangkat.  pinginnya sih pas malam tanggal 16 nya dia berada disini bersamaku. Berdua. Menunggu pergantian tanggal. Tapi semuanya diluar rencana. Oke taka pa !

16 April 2013
            Pagi itu.. sebuah pertengkaran terjadi. Entah apa penyebabnya. Aku pun tak tahu. Yang jelas. Aku yang memulainya.
“tanyakan adikmu, dia mau kado apa?” kataku via sms. Karena tanggal 16 april adiknya ulang tahun, jadi aku berniat ingin memberi adiknya sebuah kado.
“minta ninja” balasnya cuek. Memang dari semalam kami bertengkar. Dan sampai pagi ini pun masih belum reda.
“jangan tinggalin aku.. jangan pergi lagi” kataku reflek. Berulang kali aku kirim pesan macam itu akhir – akhir ini. Mungkin aku hanya takut dia pergi lagi seperti dulu.
Dia tak membalas pesan ku. Aku juga berusaha sok cuek dan tak mengiriminya pesan kembali. Aku stress karena sampai sore dia belum mengabariku. aku putuskan untuk keluar. Mencari udara segar. Sampai malam aku jalan – jalan bersama temanku. Kira – kira pukul 9 malam kurang dia mengirimiku pesan
“heh” katanya sok cuek
“kenapa hayoo?” kataku renyah. Entah kenapa aku sudah tak bisa marah lagi.
“gapapa, Cuma ingin memastikan masih hidup ato engga” katanya lagi. Biasanya nih kalo dia balasnya seperti ini, aku langsung marah – marah. Tapi kali ini engga. Lama aku tak membalasnya, masih dalam perjalanan pulang. Akhirnya akupun membalas
“sbb, tadi masih dijalan. Aku masih hidup kok ” aku kirimkan pesan itu
“oh” balasnya cuek. Dia gapernah seperti ini sebelumnya. Gapernah marah hanya karena aku lama membalas pesannya. Tapi aku senang dia seperti itu. Hanya saja aku bingung gimana caranya meleburkan emosinya.
“jangan gitu ta, aku kangen. Smsan mau?” kataku membujuk
“G” katanya masih marah
“yaudah kalo gitu aku tidur duluan ya, aku ngantuk. Semoga besok kita lebih baik ” kataku masih dalam via sms. Aku sengaja tidak mematikan bunyi telepon genggamku karena aku yakin nanti jam 12 malam dia akan menelponku dan mengucapkan “selamat ulang tahun jelek”
“yaudah smsan” balasnya sok jaim.
“gitu dong..” kataku girang
“aku lagi di mekdi ini” katanya pamer
“oya? Yaudah selamat makaaan.. aku tidur duluan ya, udah ngantuk nih” kataku pamit. Biasanya aku masih Tanya sama siapa? Dimana? Dan sampe kapan disitu. Kali ini tidak !
“jangan.” Balasnya lagi. Akhirnya kami smsan sampai kira – kira pukul 22.35. karena jam di handphoneku kurang 10 menit dari aslinya, jadi kira – kira hampir pukul 22.50 lah. Memang sengaja ku kurangi biar kalo berangkat kuliah lebih santai lagi.
Aku ketiduran. Terakhir kali dia yang tak membalas pesanku. Aku tertidur pulas. Pulas sekali. Hingga akhirnya aku bermimpi.. saat itu aku sedang mencarinya. Aku mencari tapi tak ada. Tak kudapati sosoknya. Tiba – tiba ada seekor ular menggigitku. Menggigit lenganku. Tapi aku berhasil melemparnya. Akhirnya aku putuskan untuk mencarinya lagi. Aku mulai berjalan, tapi nihil ! tak kudapati sosoknya. Tiba – tiba seekor ular menatapku buas. Dan kembali menyerangku. Aku gatau apakah ular itu adalah ular yang sama. Aku berusaha sekuat tenaga melemparnya. Akhirnya ular itu pun terlempar jauh. Aku terkejut. Aku terbangun karena ternyata headset yang kulemparkan. Yang menghasilkan bunyi keras akhirnya aku terbangun. Tapi kemudian aku terlelap kembali.
            Pukul 2 dini hari aku terbangun lebih tepatnya dibangunin teman – teman kontrakanku. Hanya untuk tiup lilin. Oh ternyata sudah tanggal 17 April.. pikirku dalam hati. Mereka bersorak riang menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Kemudian aku ceritakan tentang mimpiku tadi. Mereka saling tatap satu sama lain. lalu kemudian tertawa. Entah mereka sangat aneh. Tapi aku hiraukan kemudian aku pamit tidur lagi. Akhirnya mereka kembali ke kamar masing – masing. Aku cek handphoneku. Ga ada sms. gaada miskol. Kemana ya dia.. batinku dalam hati. 

Kuceritakan hal itu kepada teman sekamarku. Katanya dia pasti sms nanti. Aku segera tidur kembali karena mata tak mampu berkompromi. Akhirnya aku tertidur pulas. Pulas sekali. Tanpa bermimpi lagi.
            Pukul 5 kurang sedikit, teman sekamarku membangunkan tidurku karena ada telpon dari nomor tak ada. Lebih tepatnya private number. “ngapain dia pake private number” kataku dalam hati. Setelah kuangkat
“halo” kataku serak karena baru bangun tidur
“dia beneran ga ada ta?” suara perempuan dari seberang sedang menangis. Aku terkejut, kok sampai segitunya sih temen – temen ngerjain hari ulang tahunku. Batinku lagi
“apanya? Kamu siapa? Tadi malem masih smsn sama aku kok” kataku gopoh
“dia udah gaada. Dia meninggal” katanya tetap menangis. Ingin ku tampar orang diseberang telpon. Sembarangan ngomong.
“kamu siapa? Kamu siapa?” kataku lagi. Tapi dia tak menjawab. Hanya menangis. Ku tatap teman sekamarku. Memastikan apakah dia tahu sesuatu. Akhirnya teman sekamarku memelukku.
“iyaa kamu yang sabar yaa.. dia masih sempet sms kamu. Tadi malem dia pergi pukul 23.00” katanya menangis. Aku tak bisa percaya. Kosong ! semuanya bohong ! pikirku
“hah? Apa? Apa? Tidaaaaaaak !” aku mulai membanting handphoneku. Tak bisa kupercaya apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu. Saat aku mendengar kabar itu. Saat temanku mengiyakan bahwa kabar itu nyata. Bukan fiktif. Bukan hanya cerita. Konyol ! pikirku
aku masih belum bisa mempercayai kabar itu. Aku menangis. Entah aku bingung. Harus menangis ataukah tertawa. Karena kupikir hanya lelucon belaka. Kuputuskan untuk segera menemuinya. Aku ingin memastikan kabar itu dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku tak bisa percaya ! aku berusaha mencari tahu keberadaannya. Hanya untuk memastikan apakah dia baik – baik saja. Aku tak tahu harus mencarinya dimana. Harus kucari disebelah mana. Temannya bilang dia sudah dibawa ke gresik untuk dikebumikan. Akhirnya tak banyak omong aku langsung bergegas. Bersiap untuk menuju gresik. Aku tak tahu gresik itu seperti apa. Dan rumahnya sebelah mana. Aku tak tahu apa – apa. Aku menyesal karena tak mau ikut dengannya dulu disaat dia mengajakku kesana. Ah tapi aku tak bisa berpikir sejauh itu. Kuputuskan untuk ganti baju. Mengganti bajuku dengan baju kembaranku dulu dengannya. Kado ulang tahunnya setahun yang lalu. Dalam sadar aku masih berharap semuanya hanya bercandaan saja. Dalam sadar akau masih berharap bisa melihatnya. Melihatnya baik – baik saja. Akhirnya akupun berangkat. entah aku harus turun dimana dan kemana. Aku ikuti saja sopir busnya. Bus itu membawaku ke terminal Surabaya. Aku turun dan mulai menanyakan jika ke gresik naik bus yang mana. Lalu akupun bergegas masuk kedalam bus yang lain. aku berharap jika memang kabar ini adalah nyata, aku berharap Allah mengijinkan aku untuk meihatnya untuk yang terakhir kalinya. Kira – kira 30 menit berlalu hingga akhirnya bus itu menurunkanku di terminal osowilangon. Aku mulai meraih handphoneku. Dan mengetikkan pesan kepada salah seorang teman yang mengantarnya dari rumah sakit Haji Surabaya ke Gresik tempat tinggalnya.
“ada dimana?” kata temanku membalas pesanku
“aku sudah di terminal, sudah dikebumikan ya?” kataku berharap jawaban belum
“sudah. Kamu hati – hati” katanya lagi
Aku tetap tak percaya. Sebelum aku sampai disana. Kemudian sebuah angkot menurunkanku di depan pasar. Tepatnya Jl. Gubernur Suryo. Aku tak tahu dimana aku sedang berada. Lalu aku putuskan untuk naik becak menuju depan sebuah mall besar. Katanya rumahnya tak jauh dari mall besar itu. Hingga akhirnya salah satu temanku menjemputku di depan mall itu. Aku minta untuk diantar ke pemakaman.
“baru saja selesai dari pemakaman” katanya padaku.
Kami berjalan tak jauh dari mall tersebut. Ada sebuah gang. Kami belok kiri. Dadaku berdegup kencang. Darahku mengalir deras berdesir. Aku tak tahu apa yang sedang melanda perasaanku saat itu. Takut. Takut semuanya itu adalah nyata. Kami berjalan terus berjalan. Dan akhirnya kudapati sebuah nisan. Dengan tanah basah yang sepertinya baru saja digali. Teryata.. semuanya nyata. Semuanya bukan hanya lelucon belaka. Ternyata dia benar – benar pergi. Pergi jauh. Aku tak kuasa menahan tangisku. Entah aku harus berbuat apa. Aku tak mampu menjalani semuanya. Aku terus menangis. “Inikah takdir kita?”

 

Komentar

Postingan Populer